One of Marissa Haque and Ikang Fawzi Fan from Yogyakarta
Ibu dari dua anak ini merupakan salah seorang sumber informasi dan sumber inspirasi bagi kami sekeluarga di Jawa Tengah. Marissa Haque ternyata tak pernah menyerah dalam hal menuntut ilmu hingga kenegeri Cina. Dari Universitas Gajahmada saja saya bertemu beberapa kali sedang menuntut ilmu di 2 (dua) Fakultas Pasca Sarjana-UGM, yaitu: (1) FEB/Fakultas Ekonomi Bisnis dan menjelang selesai proses penulisan thesisnya; dan (2) Fakultas Hukum dengan konsentrasi Hukum Bisnis. Jarang saya temui pasangan artis Indonesia yang demikian gigih meningkatkan kompetensi serta kognisinya. Semoga Mas Ikang dan Mbak Marissa menjadi pemimpin sejati Indonesia dalam waktu dekat ini. Doa kami sekeluarga penggemar kalian berdua. Bismillaaaah...
Mbak Marissa Haque yang Cantik & Cerdas dari UGM
Selama di UGM, Kesan Orang Terhadap Mbak Marissa Haque Fawzi adalah Cantik dan Cerdas serta Baik Hati, Semoga Selamanya
Jakarta - PAN selama ini dikenal sebagai partai gudangnya artis. Untuk
pemilu 2014, sudah ada tiga artis yang siap maju dari PAN.
"Ada Ikang Fawzi, Doktor Marissa Haque dan Mbak Desy Ratnasari, dia hampir doktor juga lho," kata Ketua DPP PAN, Tjatur Sapto Edy, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (15/1/2013).
Tjatur mengatakan pertimbangan utama memilih para artis tidak hanya dari
sisi popularitas, tapi juga dari kapabilitas mereka sebagai anggota DPR
nantinya. PAN sangat selektif dengan pemilihan calegnya.
"Caleg PAN harus mempunyai kapasitas, kredibilitas dan harus punya track
record yang baik. Dia juga harus bisa menggaet massa," ujar Tjatur.
Ketua Fraksi PAN itu mengatakan persiapan pencalegan akan selesai April
2013 mendatang. Dia menjamin kualitas caleg PAN tahun ini akan lebih
baik dari tahun sebelumnya.
"Caleg PAN tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya," pungkasnya.
(trq/van)
"Terimakasih Banyak PAN May Allah Bless You Always: Marissa Haque & Ikang Fawzi"
KULIAH UMUM PENGEMBANGAN EKONOMI SYARI’AH UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Fakultas ekonomi universitas
muhammadiyah bengkulu, kemarin pada tanggal 11 Desember 2012, bertempat
di auditorium kampus II UMB, jl salak raya pada pukul 13:30 wib
menngadakan kuliah umum tentang ekonomi syariah, acara ini diharapkan
sebagai cikal bakal akan dibukanya Program Studi Ekonomi Syari’ah di
Fakultas Ekonomi – UMB Dimana sebagai narasumber pada kuliah umum ini
yaitu Dr. Hj. Marissa Grace Haque, SH, MHum, M.BA yang disela kesibukan
beliau
berkenan untuk memberikan materi kuliah umum ekonomi syariah untuk
fakultas ekonomi – UMB (Universitas Muhammadiyah Bengkulu).
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan
bagi segenap civitas akademika fakultas ekonomi – umb, Pada kesempatan
kuliah umum kali ini, dihadiri oleh rektor umb yaitu bapak Dr. H.
Khairil beserta ke-empat purek umb, antusias peserta sangat terlihat
dengan penuh sesaknya ruangan auditorium oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi
– UMB. Suasanan di acara tersebut walau penuh sehingga suhu nya menjadi
panas, namun acara berlangsung dengan semangat, hal ini membuat waktu
tak terasa berjalan telah pukul 16:30. Acara tersebut ditutup dengan
seksi tanya jawab.
Sebelum meninggalkan kampus II– UMB
pihak panitia dan narasumber berbincang – bincang ringan di ruang
rektorat, tak lupa pula sebagai kenang – kenangan civitas akademik FE –
UMB memberikan oleh– leh khas bengkulu. Kepada ibu Dr. Hj. Marissa
Grace Haque,SH, MHum, M.BA segenap civitas akademik Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengucapkan terima kasih banyak atas
kedatangan ibu dan kuliah umum yang telah ibu sampaikan. Kami berharap
meninggalkan kesan yang baik dan juga berharap suatu saat nanti. Ibu
berkenan hadir kembali dalam acara yang lain.
Professors
of economics with marketing expertise can be found at various
universities, but economists engaged in the art of batik painting are
rare. Among the few is Basu Swastha Dharmmestha.
Combining marketing and art is what the man with an MBA who is a
marketing lecturer at Gadjah Mada University (UGM) in Yogyakarta has
been doing.
Having learned to draw during childhood, in his high school years
Basu also practiced batik painting while apprenticed with Javanese
dance maestro and batik artist Bagong Kussudiardjo in his workshop in
Yogyakarta.
Basu continued to paint with his first work, Burung Hantu (Owl),
produced in 1968, followed by Keburukan vs Kebaikan (Evil vs Virtue,
1973), Ikan (Fish, 1980) and Dua Prajurit Pandawa (Two Pandava
Soldiers, 1985).
From 1985 to 2010, Basu went on hiatus from painting to focus on teaching.
“In 2010, I visited an exhibition at the Jogja Expo Center (JEC). I
was given a canvas to paint. Since then I’ve started batik painting
again,” he said. Now with his hundreds of batik works, Basu hopes that
through pictures, batik — already recognized by UNESCO as a world
heritage item — will become even more popular around the world.
The demise of batik figures in Yogyakarta such as Bambang Utoro,
Bagong Kussudiardjo and Amri Yahya has further motivated him. “I want
to keep learning and painting to succeed the batik specialists,
especially after the passing of Amri Yahya,” said Basu.
Basu avoids being trapped in certain batik design schools. His
paintings constitute a blend of contemporary, naturalistic and abstract
elements, all in a decorative style.
Through batik images, Basu also wishes to convey a message of peace.
His fish motifs, for instance, depict the dynamic sea animals’ ability
to adapt rapidly.
“Conflict is unnecessary. Adapting ourselves to current conditions
and the world is something beautiful. It’s the philosophy of my fish
patterns,” said the father of four.
Apart from fish, Basu also has adopted many wayang (shadow puppet)
characters, particularly the Pandava brothers of the Hindu epic
Mahabharata. With their lofty values, wayang figures are also seen as
compatible with the science of marketing.
“We should identify our consumers. Europeans are fond of ethnic
objects and wayang designs are ethnic in nature,” he said. Without a
doubt, his wayang canvases are being collected by his overseas friends
and foreign tourists.
“Such works will further globalize batik while communicating the
noble values of wayang and the high integrity of the Pandavas as models
of excellent conduct,” he said.
Basu shares his artistic talent with his family, related by blood to
the late distinguished choreographer and batik painter Bagong
Kussudiardjo.
To mark his return to the art world, Basu held a solo exhibition at
the Koesnadi Hardjasumantri Cultural Center at UGM recently, displaying
54 works from 1968 to 2012 under the theme “The awakening of batik
painting to make the world worth living”.
A book, Batik Lukis Basu SD (Batik Paintings of Basu SD), written by
artists Marissa Haque and Meta Ayu Thereskova, was also launched at
the event.
“I’m very interested in his work and feel grateful for participating
in the efforts of Basu Swastha, an economist who combines marketing
science and art,” Marissa said.
Today, the professor divides his time between teaching and art. “I
have my family’s support. After retirement I’m going to be focusing on
the art of batik painting and make batik even more famous the world
over,” he said.
“Basu Swastha Dharmmesta: Making Batik and Marketing It (dalam Marissa Haque Ikang Fawzi)”
By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University
Indonesia
as a country among many countries in the world, cannot escape
of the effect of globalization. More specially, the Indonesia
film industry is influenced and shaped by the cultures and
trends of many other nations. This assimilation necessary
and positive for progress and increased quality as long as
an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This
process is guaranteed by the fact that our world grows smaller
everyday and the boundaries that once existed are no more.
The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was
the first Indonesia artist to graduate from the School of
Film at the University of California Los Angles as early
as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s
were strongly predisposed to Russian production style and
technique with Indonesian graduate from Moscow University
such as Syumandjaja and Amy Priono.
Many artists to follow, Producers and Directors are products
of Indonesia education and training. Their work, also distinguished,
is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts
has been “Edutainment” or educational entertainment
for the Indonesian citizen.
The only trouble with this is seen in the extremely small
ratio of these artists in relation to the population of
Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of
money is the root of all evil it has also been the demise
of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed
the production of movies as a monetary printing press.
The typical Indonesian film left nothing for the viewing
public; there was no moral message and no real meaning.
By the end of 1980s the film industry has stagnated and
come to screeching halt. The Indonesia government further
stifled the industry’s creativity and quality, and
the differences from one film to the next became almost
impossible to discern. It was a frustrating time for the
movie-going public and even exasperating for those production
teams that sought to create.
In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated
from University of Indonesia with a degree in Law and attended
Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian
Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new
standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented
an Eastern European style of production. Many Indonesian
viewers did not understand this style of production and
found the storylines difficult to follow, but his works
have been honored (and have placed) at almost every international
film festivals in which those have appeared.
Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film
graduates that, to date, do not wish to be identified with
other movie production teams, came together to produce.
They represent the new techno generation, seeking something
new and different from all who came before them, and it
is known to Indonesians today as the movie Kuldesak.
This independent production team used a grassroots style
marketing strategy throughout production. The film smacks
of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was
also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.
The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director),
Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their
award-winning production Petualangan Sherina or the
Adventures of Sherina. The British honored this production
with the presentation of the British Chavening Award Scholarship
to Riza. This is only logical because Riza finished his
Master of Arts in screenwriting at a British Institution
in 1999. Riza ia rich with British style.
What do we see in the future of the Indonesian film industry?
What style do we hope will prevail? There are so many possibilities,
but that which cannot be denied and is clear to even those
who would close their eyes is that American films are shown
on every channel of Indonesian television and fill Indonesian
theatres. In this lies an undeniable answer.
We are also aware that American film is a collection of
assimilations from across the world. Thus we come full circle
of globalization and interdependent world in which we live.
We will, each and every one of us, learn from all of those
around us without exception, if we hope to progress. This
is a continual process that will go on for as long as we
breathe.
Marissa Haque Fawzi: "Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge"
Pada saat kita di luar Indonesia, tentu setiap detik adalah saat
memulung ilmu, benar yang dikatakan oleh karibku Dominika Dittwald bahwa
we learn everything from everybody. Kesukaan kami dalam hal
membaca memang klop satu sama lainnya.
Namun karena Bahasa Inggris
adalah bahasa ibu dari Dominika (selain Perancis dan Polandia), maka
saya selalu tertinggal dalam hal capaian jumlah buku yang telah habis
kami baca setiap minggunya. Dan saya jadi hampir selalu mentraktirnya
minum susu-coklat panas di cafetaria dekat kampus kami, karena hampir
selalu kalah 'taruhan'. Kami memilih minum susu-coklat atau moccacino karena Dominika faham saya Muslimah dan tidak meminum alkohol (walau saat itu saya masih on-off-on-off pakai kerudung terutama pasca kejadian September 11).
Seingatku Dominika sering mengucap nama Sir Ken Robinson yang mengatakan: "... never confuse knowledge with common sense...".
Robinson adalah seorang pendidik revolusioner yang mengatakan bahwa
ada fakta yang menyebutkan (tahunnya saya lupa) bahwa 98% anak di
Amerika Serikat lahir dengan kemampuan "divergent thinking." Dan hal itu membuat mereka 'tidak ada matinya' di dalam mencari solusi terhadap setiap permasalahan yang mereka hadapi!
Tak heran selama kami sekolah film di School of Film, Ohio University, Athens, USA kami selalu hampir setiap hari dicekoki kalimat "...there is no room for mistakes!" Knowledege comes but wisdonm lingers. Knowledge is power, the more you know, the more powerful you become. Uang, harta, dan jabatan dapat hilang, namun melalui ilmu Allah, nalar, kasih, dan kepedulian akan remain sustainable...insya Allah...
Di dalam Bahasa Latinnya kurang-lebih adalah begini: " Tamdiu discendum est, quamdlu vivas"...
Bismillahirrahmannirrahiiim...
Marissa Haque dari Dominika Dittwald: "We Learn Everything from Everybody"
Marissa Haque: Hubungan Angie (Angelina Sondakh) Berpotensi Bocorkan Strategi KPK
JAKARTA, TRIBUN - Artis senior yang juga politisi, Marissa Haque mengatakan, hubungan asmara antara politisi Partai Demokrat, Angelina Sondakh dengan penyidik KPK, Kompol Raden Brotoseno, berpotensi kebocoran strategi internal KPK kepada partai dalam menangani kasus korupsi Wisma Atlet, seperti dituduhkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
Marissa yang telah Doktor (S3) dari IPB dan menyelesaikan disertasi tentang Illegal Logging di Riau ini menjelaskan, dari ukuran etika, apa yang mereka lakukan sangat tidak etis. "Mengingat dari kacamata hukum, apa yang dituduhkan Nazarudin ke Angie terhadap delik pidana gratifikasinya, menuju ke arah TSK alias tersangka," jelas istri rocker Ikang Fawzi ini, Sabtu (17/12/2011).
Icha, panggilan akrab Marissa Haque, memuji kejelian mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas, dalam mengungkap hubungan asmara antara penyidik dengan Angie. Ibu dua anak yang telah menyelesaikan program MBA dari FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sekarang sedang menyelesaikan Program MH dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga ini menjelaskan, bahwa saat di dalam kelas hukum yang mahasiswa sebagian besar dari kepolisian dan kejaksaan, muncul informasi bahwa Kompol Broto kekasih Angie tersebut bukan minta pindah tapi dipindahkaan. Dari kelas hukum tersebut juga beredar kabar jika keduanya baru berkenalan selama dua bulan ini saat Angie disidik.
Saat ini Icha (Marissa Haque) sembari menghabiskan sisa tahun 2011 sedang merampungkan penulisan buku mengenai batik tandem bersama anak salah seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UGM, Meta Thereskova.
Editor : zulham
Source : Tribunnews
"Duh! Semoga Angelina Sondakh Tetap dalam Iman Islamnya: Marissa Haque Fawzi"
ICHA RASTIKA Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu (28/9/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten Ratu Atut Chosiyah, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (28/9/2011). Atut dianggap bertanggung jawab atas pengelolaan dana hibah dan bantuan sosial Provinsi Banten 2011 yang diduga telah diselewengkan.
Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar.
-- Abdullah Dahlan
”Dalam laporan itu, disebut inisial RAC (Ratu Atut) dan EK (Engkos Kosasih),” ujar peneliti dari Divisi Politik ICW, Abdullah Dahlan, di Gedung KPK, Rabu (28/9/2011).
Pemrov Banten diketahui menyalurkan dana hibah sebesar Rp 340 miliar ke 221 organisasi, forum masyarakat, dan instansi negara, serta menyalurkan dana bansos senilai Rp 51 miliar ke 160 lembaga.
Menurut Abdullah, ada lima jenis penyimpangan dalam pengelolaan program hibah dan bansos yang totalnya Rp 391 miliar itu. Penyelewengan pertama, dana hibah itu diberikan kepada lembaga-lembaga fiktif.
”Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah yang diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar,” katanya.
Perwakilan AIPP, Uday Suhada, menambahkan, dari 18 organisasi penerima hibah, hanya lima yang terdaftar sebagai organisasi formal.
”Di luar lembaga yang bersangkutan tidak diketahui legal atau tidak. Padahal, lembaga penerima hibah harus berbadan hukum, setidaknya tiga tahun,” ungkap Uday.
Penyelewengan kedua, lanjut Abdullah, sejumlah lembaga penerima hibah memiliki alamat yang sama.
”Setidaknya, ada delapan penerima hibah yang memiliki alamat sama, yaitu di Jalan Bridgen Syam'un, Kota Serang, dan empat lembaga dengan alamat sama, yaitu Jalan Syekh Nawawi Albantani Palima, Serang,” paparnya.
Padahal, dana hibah itu seharusnya diterima oleh lembaga-lembaga yang jelas nama dan alamatnya.
”Alokasi dana untuk masing-masing lembaga di Jalan Bridgen KH Syam'un sebesar Rp 22,5 miliar dan yang di jalan Syekh Nawawi total Rp 6,4 juta,” kata Abdullah.
Penyelewengan ketiga, dana tersebut dialirkan ke lembaga-lembaga yang dipimpin oleh keluarga gubernur.
”Mulai dari suami, kakak, anak, menantu, dan ipar,” ucap dia.
Abdullah mencontohkan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang dipimpin suami Ratu Atut, Hikmat Tomet.
”Total hibah yang masuk ke lembaga yang dipimpin keluarga gubernur mencapai Rp 29,5 miliar,” ujarnya.
Keempat, dana hibah ini juga diduga telah dipangkas. Jumlah dana hibah yang diterima lembaga penerima tidak sesuai dengan pagu yang ditetapkan Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Banten.
”Contohnya, Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Laksospol) Pandeglang. Dalam daftar penerima, lembaga itu memperoleh hibah Rp 500 juta. Tapi, surat pernyataan Ketua Laksospol Ayie Erlangga, mereka hanya terima Rp 35 juta,” papar Abdullah.
Adapun kerugian dari pemotongan tersebut mencapai Rp 925 juta. Terakhir, sebagian besar penerima bantuan sosial itu tidak jelas.
”Dari 160 penerima dana bansos, pemerintah daerah hanya mencantumkan 30 nama lembaga atau kepanitiaan dan tidak didukung alamat jelas,” ujar Abdullah.
Oleh karena itu, ICW dan AIPP meminta KPK melakukan penyelidikan terhadap pemberian dana bansos dan hibah tersebut. Dikhawatirkan, lanjut Abdullah, pemerintah daerah menjadikan kebijakan publik sebagai instrumen modal politik. Terlebih, ICW melihat bahwa alokasi dana hibah dan bansos Provinsi Banten terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
”Kenaikannya fantastis, pada 2009 totalnya mencapai Rp 74 miliar, tapi pada 2011, menjelang pilkada meningkat Rp 391 miliar,” tukasnya.
JAKARTA, (PRLM).- Anggota DPR Angelina Sondakh Massaid kembali meluncurkan buku lagu dan bergambar yang kedua setelah buku "Bernyanyi bersama Keanu".
Buku "Jazz For Fun" sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, karena menurut istri almarhum Adjie Massaid buku ini.untuk bisa anak anak sambil belajar dan mendengarkan musik
"Jadi anak indonesia punya lagu, dengan buku ini mudah mudahan bisa menjadi lagu anak anak seperti lagu Doa Untuk Papa dan Mama yang liriknya ditulis Adjie Massaid semasa hidupnya tapi lagu ini baru diluncurkan," tutur Angelina.
"Ada bebera lagu dalam album kedua karena dengan buku ini anak- anak bisa pintar, biasanya anak-anak suka dengerin musik tapi kalau sudah denger musik mereka kadang malas belajar tapi lewat buku ini yang pasti ada lagu di vcd dan buku ada gambarnya," kata Angelina ditemui di toko buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, Minggu 25/9. (Mun/A-88)***
"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"
Kompas.com - Apa yang kita pikirkan akan mendefinisikan semangat kita. Itu mengapa sangat penting untuk selalu membuat diri termotivasi dan memanamkan dalam pikiran bahwa kita mampu memberikan hasil terbaik.
Berbeda dengan pemahaman banyak orang selama ini yang menyebutkan bahwa semangat bisa habis dan harus diisi kembali dengan mengambil jeda, para ahli dari Stanford University berusaha membuktikan bahwa pendapat tersebut kurang tepat. Menurut mereka, semangat yang layu lebih disebabkan karena faktor mindset belaka.
Dari hasil penelitian mereka, diketahui kesanggupan seseorang untuk terus bekerja atau bersemangat sangat ditentukan oleh seberapa besar dan sebatas apa mereka mampu melakukannya.
“Bila Anda merasa semangat itu ada batasnya, maka Anda juga akan mudah lelah jika melakukan pekerjaan yang sulit. Tapi jika Anda merasa tekad dan semangat adalah sesuatu yang tak mudah habis, Anda bisa terus dan terus,” kata Veronika Job, peneliti dari Stanford University.
Dalam penelitiannya, Job dan timnya melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji para mahasiswa tentang kegigihan mereka. Setelah mengerjakan tugas-tugas kuliah yang melelahkan, mahasiswa yang yakin bahwa semangat itu terbatas, memiliki hasil ujian konsenstrasi yang buruk dibanding dengan mereka yang yakin bahwa semangat adalah sesuatu yang bisa dikendalikan.
“Mahasiswa yang diberikan pengaruh bahwa konsentrasi mereka ada batasnya harus mengambil jeda beberapa saat sebelum melakukan tugas berikutnya. Namun keyakinan bahwa semangat adalah sesuatu yang tidak terbatas membuat mahasiswa lainnya lebih kuat dalam menghadapi tantangan tugas sulit,” kata para peneliti.
Dalam jurnal Psychological Science, para peneliti mengatakan bahwa kuat tidaknya seseorang menghadapi godaan sangat ditentukan oleh kekuatan pikiran. Mereka mengatakan, hasil penelitian ini bisa menjadi landasan keyakinan bagi para pecandu untuk mengatasi masalahnya atau para pekerja yang sering kehilangan motivasi bekerja.
Ikang Fawzi Rocker Indonesia Pertama dapat MBA dari UGM (2011)
Juga Kebaggan Melalui Lagu Preman untuk Lagu dan Penyanyi: Ikang Fawzi dan 2 Awards Musiknya yang Fenomenal, 1988 cerita istrinya Marissa Haque
Yang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta, Januari 2011
Yang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta, Januari 2011.
Dan...alhamdulillah Ikang Fawzi suamiku tercatat sejarah Indonesia sebagai penyanyi rock Indonesia terkenal yang mendapatkan MBA dari UGM melalui Program Magister Manajemen dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB-UGM).
Senin, 11/04/2011 18:07 WIB Ramdhania El Hida - detikFinance
Jakarta - Pemerintah tetap komitmen terhadap perdagangan bebas ASEAN-China Free Trade Agremeent (ACFTA). Walaupun daya saing produk Indonesia kian tergerus China, yang juga berdagang secara tidak fair.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan berdasar temuan tim independen Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) dan Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) terungkap bahwa terdapat perdagangan yang timpang sebagai imbas dari penerapan kebijakan ACFTA. Namun, kata Mari, pemerintah telah menanggulangi ketidakseimbangan tersebut melalui penerapan beberapa kebijakan.
"Temuannya menunjukkan bahwa ada perdagangan yang tidak fair makanya itu kita kenakan bea masuk tambahan, itu namanya bea masuk antidumping, ada juga namanya bea masuk safeguard, namanya bea masuk penyelamatan," ujarnya ketika ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (11/4/2011).
Meskipun Mari menyatakan komitmen kebijakan ACFTA akan tetap dijalankan. Pasalnya, kebijakan tersebut juga mempunyai keuntungan seperti meningkatnya investasi China di Indonesia.
"Iya masih komit, kita mengatasi masalah daya saing di dalam negeri, untuk mengatasi berbagai hal, ada yang infrastruktur ada masalah bahan baku. Semua itu harus kita atasi dan pada saat sama kita sudah punya kesepakatan bilateral dengan China untuk menjaga supaya hubungan kita itu win-win," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, yang mengatakan pemerintah akan tetap menjalankan kesepakatan yang telah ada dengan China.
"Yang paling penting buat kita itu bagaimana agar balance dan tidak merugikan kita. Itu PR (pekerjaan rumah) kita, kita kerjakan, meningkatkan capacity building dan meningkatkan daya saing. Tapi juga China kita minta menjaga balance of trade-nya. ASEAN iya, kita harus komit dengan ASEAN. Ini dalam kerangka ASEAN, bukan bilateral. Tapi kita juga tidak ingin industri kita mengalami gangguan, apalagi sampai mengalami kebangkrutan atau apapun sesuai laporan perindustrian," ujarnya.
Sebagai informasi, sebanyak tujuh jenis produk industri yakni besi dan baja, tekstil dan produk tekstil (TPT), kosmetika, mainan anak, alas kaki, lampu, dan loudspeaker diusulkan untuk dievaluasi penerapannya pasca implementasi perjanjian perdagangan bebas ACFTA.
Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, dari tujuh produk tersebut, terdapat lima jenis produk utama yang mengalami lonjakan impor yang signifikan. Kelima produk itu adalah besi dan baja, TPT, mainan anak, kosmetika, dan alas kaki.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), selama Februari 2011 perdagangan Indonesia dengan China juga mencatat defisit US$ 324,5 juta. Defisit neraca perdagangan nonmigas dengan China pada periode Januari-Oktober 2010 mencapai US$ 5,3 miliar. Angka itu mengalami peningkatan sebesar US$ 1,4 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2009 senilai US$ 3,9 miliar.
Hakim MK, Prof mahfud Md bukan malaikat apalagi bila ingin disamakan debagai Wali Allah, boro-boro sama seperti Gus Dur...masih jauuuuuh!
Tanpa mengenyampingkan jasa Mahfud MD dalam urusan membongkar kejahatan Anggodo dengan memutarkan rekaman percakapan Anggodo saat sidang di MK, namun Amar Putusan MK untuk Caleg DPR RI Putaran ke 3 yang dipelintir oleh Andi Nurpati dan Endang Lestari dari KPU dikerjasamakan dengan Hakim terlemah di MK bernama Prof Mukhtie Fajar. Mahfud MD tidak perlu membela Mukhtie Fajar!
Karena IN-KONSISTENSI Mahfud MD sebagai seorang ilmuwan Ilmu Hukum dari UII dan UGM sangat diragukan. Dimulai ketika melaporkan Refli harus langsung ke KPK, kenapa saat kasus Nazaruddin, Mahfud MD ke Presiden SBY dan tidak langsung ke KPK seperti ketika menghadapi Refli Harun???
Sama persis ketika Mahfud MD memaksakan kehendak untuk tetap melantik Presiden SBY jadi Presiden RI ke 2 kali, padahal sengketa suara palsu atas klaim kemenangan Presiden SBY sedang berlangsung atas dasar gugatan Megawati Soekarnoputri-Prabowo subianto dan Jendral dari Hanura.
Prof Dr Mahfud MD diduga TIDAK LAYAK jadi Presiden RI 2014 besok ini!!!
INILAH.COM, Jakarta – Diam-diam artis Marissa Haque yang juga mantan calon wakil gubernur Banten mengagumi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Karena itu, Marissa dan suaminya Ikang Fawzi menghadiahi Mahfud sebuah lagu, berjudul “Jujurkan Keadilan”.
"Saya kesini hanya untuk menyerahkan lagu yang sudah saya buat dengan Ikang," ungkapnya saat mengunjungi MK, Kamis (30/06/2011).
Menurut Ica, begitu ia akrab disapa, awalnya lagu itu ingin dibuat kenang-kenangan untuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kampus yang telah mengajarkan dirinya tentang ilmu hukum di Pascasarjana. "Namun, saat proses rekaman itu selesai, Pak Mahfud tengah didera berbagai masalah. Terutama perseteruan terkait kaus surat palsu MK," ujarnya.
Ica adalah salah satu mahasiswa Mahfud di kampus tersebut. "Saya kagum kepada beliau, selain karena dosen saya di UGM, saya percaya dengan sepak terjang beliau selama di MK yang tak kenal kompromi dalam menegakkan keadilan," sanjungnya.
Lagu berjudul "Jujurkan Keadilan" itu berdurasi 3 menit 50 detik. Lagu tersebut menyampaikan pesan agar keadilan harus berjalan di atas kejujuran, agar hukum di negeri ini bisa berjalan sesuai dengan tujuan ilmu hukum untuk memberikan keadilan bagi rakyat.
"Semoga ini (lagu), memberi motivasi kepada beliau, untuk tetap mempertahankan komitmennya menegakkan keadilan di negara ini." [tjs]
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Marissa Haque menegaskan bahwa dirinya tidak akan terjun lagi dalam ajang pemilu kepala daerah (pilkada) di Banten. Menurut dia, keikutsertaannya dalam pilkada Banten beberapa waktu lalu cukup sebagai pembelajaran dalam hidupnya.
”Jadi saya ucapkan terima kasih kepada Pak Suhaemi mantan Kajati Banten yang telah mempercayai saya,” ujarnya “Mungkin waktunya kurang tepat,” tegas Marissa saat berkunjung ke kantor Republika di Jakarta Jumat (18/3)
Marissa menuturkan saat kini ia tengah berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan studi S2 nya di UGM di dua fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Bisnis. ”Fokus saya saat ini ke situ,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan cita-cita besarnya saat ini adalah ingin berkarier sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi (MK). ”Saya melihat di MK saat ini belum ada Ahli Hukum Bisnis. Sembilan hakim di MK adalah ahli Hukum Tata Negara, Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Belum ada dari Hukum Bisnisnya, yang nantinya spesialisasi insya Allah pada Hukum Ekonomi Syariah,” ujar Marissa.
SURABAYA- Kondisi pelajaran musik di sekolah dasar hingga menengah atas kian memprihatinkan. Bahkan pola-pola pembelajaran terkesan monoton sehingga siswa tidak memahami musik secara pasti. Pelajaran musik di Indonesia hanya sebatas teori saja.
Hal itu disampaikan Ketua Music Teacher Association of Indonesia (MTAoI) Ivon Maria Pek Pien. "Pelajaran musik di Indonesia sangat jauh tertinggal dibanding luar negeri. Oleh karena itu, melalui MTAoI ini akan diperjuangkan agar terwujudnya kurikulum musik skala nasional," kata Ivon di sela-sela acara Open Piano Competition The 11th Galaxy International di Hotel JW Marriot, Jalan Embong Malang, Surabaya, Jum'at (4/3/2011).
Dia menambahkan, di Indonesia, sekolah musik selalu dicampurkan dengan sekolah umum. Beberapa siswa selalu dibebani dengan pelajaran musik yang hanya teori saja. MTAoI berencana menggulirkan kurikulum bagi perkembangan musik di Indonesia, yakni bagaimana menanamkan musik secara benar sejak dini. Kemudian, ketika siswa beranjak dewasa dapat menerapkan musik tanpa harus les privat lagi.
Ivon mengkritik, Indonesia tidak memiliki konservatorium, sebuah wadah untuk mencari bakat-bakat musisi. Di luar negeri, seperti di New York dan Eropa, konservatorium ini sudah melembaga. "Kabarnya sih akan ada pembangunan konservatorium di Indonesia. Sayangnya yang mendanai bukan pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Belanda bekerja sama dengan kampus Widya Mandala Surabaya," ungkapnya. (rfa)(rhs)
Kini ada 12 INPRES untuk urusan Mafia Pajak Gaqyus Tambunan. Pendapat lugas dan cerdas disuarakan oleh Dr.Zaenal Arifin Muchtar dari UGM (Ketua PUKAT FH UGM) di Yogyakarta, dalam sebuah wawancara jarak jauh dan life. Menurutnya, komitmen dari Leader tidak ada atau diduga "tidak mampu", dengan pertimbangan kenyataan lain di lapangan yang tersaksikan masyarakat sebagai: (1 )tidak berani; (2) tidak tetap hati; dan (3) tidak mau.
Kemampuan manajerial birokrat yang tak berkomitmen harus disegerakan untuk DIPANGKAS oleh Presiden RI. Kemampuan manajerial sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan cq Presiden RI yang intelektual berkelas Doktor harus mampu menggantikan mereka berdasarkan hasil pembobotan HR Scored Card berbasis Merit Based System. Menurut Dr. Rizal Ramli adalah bahwa Demokrasi Kriminal Indonesia terbajak sistem Politik dan Leadership lemah karena dugaan sang Leader yang tidak bersih (Metro Hari Ini, Pk 18.20)
Siapakah pelaku pengiriman berita ini di FORGOS di grup detik.com??? Jahat sekali oknum mereka itu ya? Biarlah di akhirat nanti mereka semua akan menanggung energi buruk yang mereka keluarkan.
Diceritakan Marissa Haque, semenjak ia memberikan dukungan penuh terhadap Andre Taulany sebagai calon Walikota Tangerang Selatan banyak bermunculan gambar-gambar seronok mengatasnamakan keluarganya di dunia Maya. Ia pun menduga ada unsur politik di dalamnya.
"Itu kalau disearching nama Ikang di Youtube, pasti ada gambar esek-esek dengan judul namaku atau Ikang. Masya Allah. Ini kan semacam pembusukan karakter," ujar Marissa saat ditemui di kediamannya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (18/1/2011).
Ibu dua anak itu awalnya tak menyadari jika citra baiknya sudah teraniaya di dunia maya. Karena ia terbiasa memanfaatkan internet hanya untuk keperluan pekerjaan.
"Tadinya aku cuek. Karena biasanya aku buka internet hanya untuk riset. Ternyata pas diberitahu, aku coba searching, Dan itu cukup mengganggu," jelas wanita yang sempat mencalonkan jadi Wakil Gubernur Banten pada tahun 2006 lalu itu. (sumber: yahoo)
Marissa Haque Dianiaya di Dunia Maya kata FORGOS di detik.com
Ya Allaaah... fabiayyi ala'i Robbi kumma tukadzdibaaan... tak ada lagi ni'mat yang akan kami dustakan Ya Allaaah... Terimakasih banyak atas rezeki umur panjang, kebahagiaan berkelanjutan... anak-anak sehat dan cantik-cerdas... teman-teman kami yang setia dalam suka dan duka... terimakasih Ya Allah...terimakasih...
Bulan-bulan terakhir ini kami berdua semakin banyak berdua... bulan madu teruuus... Alhamdulillaaah...
Bulan Madu Terus Selama di Yogyakarta: Marissa Haque & Ikang Fawzi Sumber:http://marissa-haque-fh-ugm.blogspot.com/